Menulis itu seperti setengah berbicara. Dalam berbicara ada yang namanya dialog, monolog atau polilog (ini ngarang). Menulis seperti monolog karena kita aktif sendiri. Tidak hanya sebagai dokumentasi ide atau gagasan, namun juga tempat kita membuang sampah yang ada di dalam pikiran. Jangan terlalu dini mengambil kesimpulan bahwa ide atau gagasan adalah sebuah harta karun atau emas intan permata. Terlalu banyak ide atau gagasan yang mengendap di dalam pikiran nyatanya justru membuat sumpek dan menimbulkan penyakit. Mirip seperti tumpukan sampah, jika dibiarkan malah akan mendatangkan banyak penyakit. Namun sampah juga bisa berguna jika diolah dengan cara benar menjadi sesuatu yang benar. Mirip to sama ide.
Kadangkala saya juga mengalami hal yang demikian. Terlalu banyak ide namun tak banyak yang bisa kita laksanakan membuat otak seperti sumpek. Rasanya jenuh, seperti kabut yang pekat di malam hari sehabis hujan di lereng gunung lawu. Seberapapun terangnya lampu motor kita untuk melewatinya, cahayanya tak bisa menembusnya barang 2 meteran. Justru pandangan kita terhalang olah pendaran cahaya akibat tertabrak oleh kabut jenuh itu. Oleh karena itu harus kita keluarkan semua sampah yang ada, salah satunya yaitu dengan menulis. Mungkin bisa diperhatikan, semakin banyak saya menulis berarti semakin luang waktu saya dan semakin banyak sampah yang ada. Blog ini bukan satu-satunya ternyata (hehehe!).
Namun terkadang jenuh di pikiran ya hanya sebatas jenuh saja. Saat kita sudah terlalu sering melakukan satu hal yang terus kita ulang-ulang namun dengan setengah hati, maka kabut jenuh mulai turun. Seperti halnya Sholat, peribadatan yang rutin dilakukan. Saat dilakukan setengah hati dan saat alpha akan fungsi dan kesadaran diri maka kita sering jenuh. Yang namanya manusia memang seperti itu, seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Tidak hanya nasib dan perasaan (entah bahagia atau sedih) namun juga kesadaran akan diri. Bahasa gaulnya adalah lupa. Saat antar matriks syaraf susah berkomunikasi karena munculnya zat pengganggu di selabung myelin, seperti ketika otot sudah mulai jenuh dengan asam laktat, maka kita sudah mulai lelah. Obatnya kemudian ya hanya istirahat.
Refreshing adalah sebuah istilah yang agak aneh. Orang jenuh bekerja kemudian dia pergi piknik. Di dalam pikniknya dia juga tetap aktif bergerak, berbicara dan berpikir, sama ketika bekerja yang dia rasa dia sedang jenuh terhadapnya. Ketika sendok dibakar sampai membara, panas, kemudian dicelup ke dalam air dingin, di situ akan timbul suara 'nyess' dan suhu turun drastis menjadi dingin. Itu adalah sebuah situasi dari hot menjadi fresh. Dipanasin lagi sendoknya kemudian didinginkan lagi, maka dia menjadi fresh lagi. Kegiatan pem-fresh-an ini yang berulang-ulang kemudian diistilahi refreshing. Revolusi, muter berulang-ulang berubah kedudukan dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Namun ini paragraf seperti tidak ada artinya karena saya menulis langsung dari pikiran raw saya. Ok lah, yowis ngono wae.
Mungkin agak sedikit beda lagi dengan beberapa orang. Ada yang merasa fresh ketika dia banyak latihan fisik seperti olah raga. Ada juga yang menyanyi, ada yang ngobrol dan ngegosip dan lain hal sebagainya. Mungkin orang berbeda-beda dalam hal itu namun yang bisa saya tangkap adalah mereka melakukan hal atau kegiatan yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan dalam kerjanya. Namun akan aneh lagi jika kita lihat budaya negara maju seperti jepang. Ada istilah workaholic, gila kerja. Saya belum banyak memahami peristiwa ini dan tidak tau apakah mereka sangat menikmati kerjanya atau gimana. Ini membuat masalah terasa pelik dalam satu sisi namun semakin jelas dalam sisi lain bahwa manusia itu dinamis sekali, termasuk dalam hal persepsi masing-masing dalam kegiatan hidupnya. Gembira memiliki arti yang berbeda-beda dan bersudut dan jarak pandang yang bervariasi. Ketika nyaman terasa gembiran dan mengalirlah hormon endorphin, melantonin dan hormon bahagia lainnya, maka sekejap capek akan luntur karena asam laktat mulai larut. Ya begitulah, selamat refresing.
Kadangkala saya juga mengalami hal yang demikian. Terlalu banyak ide namun tak banyak yang bisa kita laksanakan membuat otak seperti sumpek. Rasanya jenuh, seperti kabut yang pekat di malam hari sehabis hujan di lereng gunung lawu. Seberapapun terangnya lampu motor kita untuk melewatinya, cahayanya tak bisa menembusnya barang 2 meteran. Justru pandangan kita terhalang olah pendaran cahaya akibat tertabrak oleh kabut jenuh itu. Oleh karena itu harus kita keluarkan semua sampah yang ada, salah satunya yaitu dengan menulis. Mungkin bisa diperhatikan, semakin banyak saya menulis berarti semakin luang waktu saya dan semakin banyak sampah yang ada. Blog ini bukan satu-satunya ternyata (hehehe!).
Namun terkadang jenuh di pikiran ya hanya sebatas jenuh saja. Saat kita sudah terlalu sering melakukan satu hal yang terus kita ulang-ulang namun dengan setengah hati, maka kabut jenuh mulai turun. Seperti halnya Sholat, peribadatan yang rutin dilakukan. Saat dilakukan setengah hati dan saat alpha akan fungsi dan kesadaran diri maka kita sering jenuh. Yang namanya manusia memang seperti itu, seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Tidak hanya nasib dan perasaan (entah bahagia atau sedih) namun juga kesadaran akan diri. Bahasa gaulnya adalah lupa. Saat antar matriks syaraf susah berkomunikasi karena munculnya zat pengganggu di selabung myelin, seperti ketika otot sudah mulai jenuh dengan asam laktat, maka kita sudah mulai lelah. Obatnya kemudian ya hanya istirahat.
Refreshing adalah sebuah istilah yang agak aneh. Orang jenuh bekerja kemudian dia pergi piknik. Di dalam pikniknya dia juga tetap aktif bergerak, berbicara dan berpikir, sama ketika bekerja yang dia rasa dia sedang jenuh terhadapnya. Ketika sendok dibakar sampai membara, panas, kemudian dicelup ke dalam air dingin, di situ akan timbul suara 'nyess' dan suhu turun drastis menjadi dingin. Itu adalah sebuah situasi dari hot menjadi fresh. Dipanasin lagi sendoknya kemudian didinginkan lagi, maka dia menjadi fresh lagi. Kegiatan pem-fresh-an ini yang berulang-ulang kemudian diistilahi refreshing. Revolusi, muter berulang-ulang berubah kedudukan dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Namun ini paragraf seperti tidak ada artinya karena saya menulis langsung dari pikiran raw saya. Ok lah, yowis ngono wae.
Mungkin agak sedikit beda lagi dengan beberapa orang. Ada yang merasa fresh ketika dia banyak latihan fisik seperti olah raga. Ada juga yang menyanyi, ada yang ngobrol dan ngegosip dan lain hal sebagainya. Mungkin orang berbeda-beda dalam hal itu namun yang bisa saya tangkap adalah mereka melakukan hal atau kegiatan yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan dalam kerjanya. Namun akan aneh lagi jika kita lihat budaya negara maju seperti jepang. Ada istilah workaholic, gila kerja. Saya belum banyak memahami peristiwa ini dan tidak tau apakah mereka sangat menikmati kerjanya atau gimana. Ini membuat masalah terasa pelik dalam satu sisi namun semakin jelas dalam sisi lain bahwa manusia itu dinamis sekali, termasuk dalam hal persepsi masing-masing dalam kegiatan hidupnya. Gembira memiliki arti yang berbeda-beda dan bersudut dan jarak pandang yang bervariasi. Ketika nyaman terasa gembiran dan mengalirlah hormon endorphin, melantonin dan hormon bahagia lainnya, maka sekejap capek akan luntur karena asam laktat mulai larut. Ya begitulah, selamat refresing.



