Kapasitas produksi adalah jumlah atau volume produk yang dapat dibuat dalam satu proses produksi/periode produksi dengan sumber daya yang dimilikinya. Produk di sini bentuknya bermacam-macam, bisa barang atau jasa. Contoh dalam bentuk barang misalnya adalah roti. Sebuah produsen roti membuat produk berupa roti. Dalam kasus ini pemanggang roti yang dimilikinya hanya bisa muat untuk jumlah roti 200 sekali pemanggangan. Maka dari itu misalnya di sini kita anggap satu siklus produksi itu adalah pemanggangannya maka kapasitas produsen itu per pemanggangan adalah 200 roti. Beda lagi jika satuannya berbeda misalnya dalam satu hari. Maka di sini sebuah satuan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Contoh kedua yaitu pada usaha jasa yaitu barbershop atau tempat cukur rambut. Untuk bisa mengerjakan seorang pelanggan seorang tukang cukur butuh 30 menit. Namun tukang cukur rambut tersebut butuh waktu 5 menit istirahat setelah mencukur satu orang, jadi kita anggap waktu pengerjaannya adalah 35 menit. Jika dalam sehari jam kerjanya adalah 8 jam atau 480 menit maka kapasitas cukur tukang cukur tersebut adalah 480/35 = 13,71 ~ 14 orang dalam sehari.
Sederhananya dalam keseimbangan lini produksi agar produksi dapat berjalan dengan lancar maka waktu pengerjaan untuk setiap stasiun kerja pada jenis produksi flow/aliran disesuaikan dengan stasiun kerja yang memiliki waktu pengerjaan paling lama atau kapasitas produksi yang paling kecil. Jika tidak disamakan kapasitasnya maka yang terjadi adalah penumpukan wip (work in process)/ produk yang belum jadi yang berarti pemborosan tempat dan menyebabkan bottle neck yang nantinya akan menimbulkan masalah-masalah baru. Ini adalah teori umum, namun dalam pelaksanaannya dalam industri ada saja perusahaan yang tetap melakukannya karena berbagai macam pertimbangan bisnis. Bisa jadi produk yang kita anggap wip tadi sebenarnya juga barang yang diproduksi untuk pesanan perusahaan lain dan sisanya untuk produksi sendiri. Jaman sekarang ini dengan sistem komunikasi yang lebih mudah dan efektif dinding bisnis menjadi lebih fleksibel. Asal saling untuk dan tidak merugikan satu sama lain maka boleh saja dilakukan.
Sederhananya dalam keseimbangan lini produksi agar produksi dapat berjalan dengan lancar maka waktu pengerjaan untuk setiap stasiun kerja pada jenis produksi flow/aliran disesuaikan dengan stasiun kerja yang memiliki waktu pengerjaan paling lama atau kapasitas produksi yang paling kecil. Jika tidak disamakan kapasitasnya maka yang terjadi adalah penumpukan wip (work in process)/ produk yang belum jadi yang berarti pemborosan tempat dan menyebabkan bottle neck yang nantinya akan menimbulkan masalah-masalah baru. Ini adalah teori umum, namun dalam pelaksanaannya dalam industri ada saja perusahaan yang tetap melakukannya karena berbagai macam pertimbangan bisnis. Bisa jadi produk yang kita anggap wip tadi sebenarnya juga barang yang diproduksi untuk pesanan perusahaan lain dan sisanya untuk produksi sendiri. Jaman sekarang ini dengan sistem komunikasi yang lebih mudah dan efektif dinding bisnis menjadi lebih fleksibel. Asal saling untuk dan tidak merugikan satu sama lain maka boleh saja dilakukan.