Budaya untuk berkarya itu sulit berkembang jika sudah berhadapan dengan sifat malas. Saya tidak begitu paham apakah malas adalah sebuah sifat atau hanya kebiasaan, yang pasti kondisi ini mirip penyakit. Bukan
penyakit yang fatal menjangkiti tubuh, namun bisa beresiko lebih parah merusak tubuh daripada sakit fisik di tubuh karena penyakit ini berdiam di dalam hati. Saya bisa tau dan bisa menulis ini karena saya mengalaminya sendiri.
![]() |
| Gambar: Oberlo.com |
Pada dasarnya saya bukan seorang pemalas. Rasa malas itu tumbuh dari sebuah peristiwa yang membuat diri saya pasif. Keinginan dan harapan yang besar terhadap sesuatu yang kemudian hancur porak poranda karena
tidak banyak yang bisa dilakukan membuat diri sadar bahwa memnag tidak banyak yang bisa dilakukan. Apalagi semua usaha sudah dilakukan. Terkadang seorang yang realistis pun akan menjadi emosionil dan sentimentil jika dicecar
dalam suatu masalah tanpa ada backup yang berarti dari orang-orang terdekat.
Hal kedua ynng menjadi pemicu rasa malas adalah terlalu banyak berpikir dan berangan. Berpikir dan berimajinasi memang sebuah hal dasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan seseorang, namun ada sebuah hukum
alam yang tak bisa diungkiri kebenarannya yang melibas hampir semua makhluk. Terlalu banyak melakukan sesuatu, mengonsumsi sesuatu maka justru akan merusak. Kenapa bisa begitu? Karena pada dasarnya makhluk bisa hidup baik
ketika berada dalam keseimbangan. Contohnya saja ph air minum. Orang akan sehat bila mengonsumsi rutin air ber ph netral, 7. Terlalu basa akan membuat jadi iritasi dan terganggunya kerja pencernakan, terlalu asam juga akan
merusak dinding lambung. Too much love will kill you. Too much tinking and imaginating also will kill you.
Suatu kondisi yang dibiarkan terus menerus maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Kondisi yang kurang aktif atau pasif gitu saja lah, jika terlalu lama dibiarkan akan menjadi sifat malas. Kadang tidak disadari,
seperti penyakit parah. Tiba-tiba malas ini menjadi sebuah kebiasaan dan mengakar. Jika sudah demikian maka butuh effort yang sangat besar untuk bisa menghilangkannya. Seperti ketika pakaian sudah terlalu kotor karena lama
tidak dibersihkan dari noda. Parahnya noda itu berasal dari getah pohon, atau cat yang sudah keras, maka untuk menghilangkannya harus butuh waktu yang lama pula. Perlakuannya pun tidak bisa langsung dengan kekerasan karena
malah bisa rusak. Harus dengan strategi, dengan perlakan dan tepat.
Malas menurut saya memang sebuah penyakit yang timbul dari pikiran dan hati. Seperti penyakit-penyakit lainnya malas juga bisa dihilangkan kog. Namun tak bijak jika kita membiarkan penyakit itu tumbuh. Lebih
baik kita cegah saja, karena jika penyakit itu sudah datang maka kerugian lah yang hanya akan kita dapat.
