Rabu, 10 Januari 2018

Penyakit Malas

Budaya untuk berkarya itu sulit berkembang jika sudah berhadapan dengan sifat malas. Saya tidak begitu paham apakah malas adalah sebuah sifat atau hanya kebiasaan, yang pasti kondisi ini mirip penyakit. Bukan penyakit yang fatal menjangkiti tubuh, namun bisa beresiko lebih parah merusak tubuh daripada sakit fisik di tubuh karena penyakit ini berdiam di dalam hati. Saya bisa tau dan bisa menulis ini karena saya mengalaminya sendiri.
Gambar: Oberlo.com

Pada dasarnya saya bukan seorang pemalas. Rasa malas itu tumbuh dari sebuah peristiwa yang membuat diri saya pasif. Keinginan dan harapan yang besar terhadap sesuatu yang kemudian hancur porak poranda karena tidak banyak yang bisa dilakukan membuat diri sadar bahwa memnag tidak banyak yang bisa dilakukan. Apalagi semua usaha sudah dilakukan. Terkadang seorang yang realistis pun akan menjadi emosionil dan sentimentil jika dicecar dalam suatu masalah tanpa ada backup yang berarti dari orang-orang terdekat.

Hal kedua ynng menjadi pemicu rasa malas adalah terlalu banyak berpikir dan berangan. Berpikir dan berimajinasi memang sebuah hal dasar yang sangat diperlukan dalam kehidupan seseorang, namun ada sebuah hukum alam yang tak bisa diungkiri kebenarannya yang melibas hampir semua makhluk. Terlalu banyak melakukan sesuatu, mengonsumsi sesuatu maka justru akan merusak. Kenapa bisa begitu? Karena pada dasarnya makhluk bisa hidup baik ketika berada dalam keseimbangan. Contohnya saja ph air minum. Orang akan sehat bila mengonsumsi rutin air ber ph netral, 7. Terlalu basa akan membuat jadi iritasi dan terganggunya kerja pencernakan, terlalu asam juga akan merusak dinding lambung. Too much love will kill you. Too much tinking and imaginating also will kill you.

Suatu kondisi yang dibiarkan terus menerus maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Kondisi yang kurang aktif atau pasif gitu saja lah, jika terlalu lama dibiarkan akan menjadi sifat malas. Kadang tidak disadari, seperti penyakit parah. Tiba-tiba malas ini menjadi sebuah kebiasaan dan mengakar. Jika sudah demikian maka butuh effort yang sangat besar untuk bisa menghilangkannya. Seperti ketika pakaian sudah terlalu kotor karena lama tidak dibersihkan dari noda. Parahnya noda itu berasal dari getah pohon, atau cat yang sudah keras, maka untuk menghilangkannya harus butuh waktu yang lama pula. Perlakuannya pun tidak bisa langsung dengan kekerasan karena malah bisa rusak. Harus dengan strategi, dengan perlakan dan tepat.

Malas menurut saya memang sebuah penyakit yang timbul dari pikiran dan hati. Seperti penyakit-penyakit lainnya malas juga bisa dihilangkan kog. Namun tak bijak jika kita membiarkan penyakit itu tumbuh. Lebih baik kita cegah saja, karena jika penyakit itu sudah datang maka kerugian lah yang hanya akan kita dapat.



Senin, 20 November 2017

refreshing dari istirahat

Menulis itu seperti setengah berbicara. Dalam berbicara ada yang namanya dialog, monolog atau polilog (ini ngarang). Menulis seperti monolog karena kita aktif sendiri. Tidak hanya sebagai dokumentasi ide atau gagasan, namun juga tempat kita membuang sampah yang ada di dalam pikiran. Jangan terlalu dini mengambil kesimpulan bahwa ide atau gagasan adalah sebuah harta karun atau emas intan permata. Terlalu banyak ide atau gagasan yang mengendap di dalam pikiran nyatanya justru membuat sumpek dan menimbulkan penyakit. Mirip seperti tumpukan sampah, jika dibiarkan malah akan mendatangkan banyak penyakit. Namun sampah juga bisa berguna jika diolah dengan cara benar menjadi sesuatu yang benar. Mirip to sama ide.

Kadangkala saya juga mengalami hal yang demikian. Terlalu banyak ide namun tak banyak yang bisa kita laksanakan membuat otak seperti sumpek. Rasanya jenuh, seperti kabut yang pekat di malam hari sehabis hujan di lereng gunung lawu. Seberapapun terangnya lampu motor kita untuk melewatinya, cahayanya tak bisa menembusnya barang 2 meteran. Justru pandangan kita terhalang olah pendaran cahaya akibat tertabrak oleh kabut jenuh itu. Oleh karena itu harus kita keluarkan semua sampah yang ada, salah satunya yaitu dengan menulis. Mungkin bisa diperhatikan, semakin banyak saya menulis berarti semakin luang waktu saya dan semakin banyak sampah yang ada. Blog ini bukan satu-satunya ternyata (hehehe!).

Namun terkadang jenuh di pikiran ya hanya sebatas jenuh saja. Saat kita sudah terlalu sering melakukan satu hal yang terus kita ulang-ulang namun dengan setengah hati, maka kabut jenuh mulai turun. Seperti halnya Sholat, peribadatan yang rutin dilakukan. Saat dilakukan setengah hati dan saat alpha akan fungsi dan kesadaran diri maka kita sering jenuh. Yang namanya manusia memang seperti itu, seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Tidak hanya nasib dan perasaan (entah bahagia atau sedih) namun juga kesadaran akan diri. Bahasa gaulnya adalah lupa. Saat antar matriks syaraf susah  berkomunikasi karena munculnya zat pengganggu di selabung myelin, seperti ketika otot sudah mulai jenuh dengan asam laktat, maka kita sudah mulai lelah. Obatnya kemudian ya hanya istirahat.

Refreshing adalah sebuah istilah yang agak aneh. Orang jenuh bekerja kemudian dia pergi piknik. Di dalam pikniknya dia juga tetap aktif bergerak, berbicara dan berpikir, sama ketika bekerja yang dia rasa dia sedang jenuh terhadapnya. Ketika sendok dibakar sampai membara, panas, kemudian dicelup ke dalam air dingin, di situ akan timbul suara 'nyess' dan suhu turun drastis menjadi dingin. Itu adalah sebuah situasi dari hot menjadi fresh. Dipanasin lagi sendoknya kemudian didinginkan lagi, maka dia menjadi fresh lagi. Kegiatan pem-fresh-an ini yang berulang-ulang kemudian diistilahi refreshing. Revolusi, muter berulang-ulang berubah kedudukan dari atas ke bawah dan ke atas lagi. Namun ini paragraf seperti tidak ada artinya karena saya menulis langsung dari pikiran raw saya. Ok lah, yowis ngono wae.

Mungkin agak sedikit beda lagi dengan beberapa orang. Ada yang merasa fresh ketika dia banyak latihan fisik seperti olah raga. Ada juga yang menyanyi, ada yang ngobrol dan ngegosip dan lain hal sebagainya. Mungkin orang berbeda-beda dalam hal itu namun yang bisa saya tangkap adalah mereka melakukan hal atau kegiatan yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan dalam kerjanya. Namun akan aneh lagi jika kita lihat budaya negara maju seperti jepang. Ada istilah workaholic, gila kerja. Saya belum banyak memahami peristiwa ini dan tidak tau apakah mereka sangat menikmati  kerjanya atau gimana. Ini membuat masalah terasa pelik dalam satu sisi namun semakin jelas dalam sisi lain bahwa manusia itu dinamis sekali, termasuk dalam hal persepsi masing-masing dalam kegiatan hidupnya. Gembira memiliki arti yang berbeda-beda dan bersudut dan jarak pandang yang bervariasi. Ketika nyaman terasa gembiran dan mengalirlah hormon endorphin, melantonin dan hormon bahagia lainnya, maka sekejap capek akan luntur karena asam laktat mulai larut. Ya begitulah, selamat refresing.


Jumat, 22 September 2017

Ayam kampung

Sebagai seorang kampung tentu saya sangat akrab dengan ayam kampung. Bahkan kita shohib :) , hehe. Ayam kampung adalah ayam lokal yang biasa ditemukan di kampung-kampung. Di rumah saya juga memelihara ayam kampung, namun hanya memelihara alakadarnya saja, tidak profesional. Ayam kampung di penduduk kebanyakan dipelihara sebagai sarana untuk membantu menghabiskan sampah rumah tangga, seperti sisa makanan, nasi, lauk, sayur dan lain sebagainya yang daripada dibuang mending diberikan kepada ayam. Lumayan kan bisa menjadi daging ayam yang nanti kalo pas waktu-waktu khusus seperti perayaan bisa dimanfaatkan dagingnya.

Di rumah saya, ayam hidup separuh meliarkan diri di kebon, halaman samping rumah dan melancong sampai ke sawah-sawah. Rumah saya di tepi sawah sehingga ayam di sini sering tamasya ke sawah. Kondisi pememeliharaan ayam di rumah tidak jauh berbeda dengan masyarakat kampung pada umumnya, alakadarnya begitu. Pernah sekali saya mencoba mendatangkan ayam kampung super sebanyak seratus ekor, maksudnya agar sedikit profesional gitu. Hal yang terjadi kemudian adalah ayam itu ludes, rontok satu per satu karena penyakit. Waktu itu yang saya harapkan adalah agar dikelola oleh ayah saya, saya hanya sebagai penasihat. Dikarenakan pada hakikatnya ayah saya tidak begitu berbakat dalam memelihara sesuatu, maka hancurlah. Mau diberikan instruksi seperti apa saja, saran apa saja, namun karena memang tidak sesuai ya akhirnya tidak akan berjalan dengan lancar.

Saya sebenarnya tertarik untuk memelihara ayam dan dalam waktu dekat ini saya akan membikin kandang yang lebih baik dari sebelumnya. Kandang ayam kampung konvensional biasanya hanya sebatas lahan dengan pembatas bambu beralas tanah biasa. Pemberian pakan minum secara manual dan tidak ada manajemen limbah. Itu semua adalah sebuah masalah karena tidak higienis. Selain itu kondisi ayam yang terbuka cenderung mudah terkena wabah, apalagi tempatnya kotor. Rencana saya adalah bagaimana masalah tadi bisa terselesaikan, yaitu dengan memodifikasi kandang yang ada dan membuat manajemen limbah. Video di bawah ini adalah salah satu contoh kandang ayam yang terotomasi dan sangat bagus sekali aliran pakan, minum dan limbahnya:


Kandang terotomasi di atas adalah kandang untuk ayam broiler. Menurut saya agak sedikit kasihan kepada ayam kampung jika dimasukkan ke dalamnya. Tempat yang terlalu sempit nantinya membuat pergerakan ayam semakin sedikit dan menjadikan tekstur ayam tidak seperti layaknya ayam kampung sejati. Mungkin akan lebih baik jika diperluas atau dikurangi kepadatan ayamnya. Selain itu juga bagus jika ditinggikan dan dikasih "pancikan" sehingga ayam bisa bermain lompat-lompatan gitu. Tempatnya yang terlalu tertutup juga akan menjadikan ayam bau "gudang".  

Kandang bertingkat seperti di atas bagus untuk menghemat ruang dan cocok jika diotomasi seperti video di atas. Saya pernah melihat sebuah video di youtube juga yang otomasi namun tidak ber-rak seperti di atas. Sistem kandang biasa yang los seperti langseung lantai litter begitu namun ternyata yang otomasi adalah litternya. Sepenahnya sama seperti video di atas hanya saja langsung jadi satu semua tanpa rak, namu otomasi pakan, minum dan limbahnya tetap. Lain kali akan saya cantumkan videonya kalo sudah ketemu. 

Ayam kampung menurut saya tidak hanya sebuah produk lokal asli indonesia, namun juga berkualitas produknya. Semoga rencana saya nanti bisa terwujud dengan lancar. aamiin.