Minggu, 02 Juli 2017

Keracunan Sup Basi

Kemarin siang dua adik sepupu yang cantik-cantik datang ke rumah membawa makanan, sisa syawalan guru di rumahnya. Acara syawalannya bulek. Cukup enak makanannya dan sewajarnya kita makan.

Jam 11 malam ada makanan yang tersisa, sup teryata. Saya makan lah agar tidak mubadzir, namun rasanya sudah kecut. Waktu itu perut sebenarnya sudah penuh karena sebelumnya saya sudah makan banyak. Selanjutnya saya istirahat di depan tv dengan adik saya, tetapi entah kenapa suasana tubuh tidak enak. Jam 12an lebih saya pindah ke kamar, niatnya mau tidur. Suasana cukup seger, 25 derajat, suhu kamar sebenarnya tetapi saya merasa kedinginan. Saya pakai Sleeping bag dacron saya plus selimut di dalamnya.

Jam setengah dua malam saya merasakan perut saya seperti kembung dan sakit sekali. Mual  banget.  Rasanya sakit sekali perut ini. Saya ke dapur, ambil air panas lalu minum sedikit karena saya kira masuk angin biasa. Biasanya setelah minum air anget agak enakan dikit. Memang perut jadi anget tapi tetep sakit, kembung dan mual parah. Saya jalan agak cepat ke WC karena perut bawah saya juga berasa. Akhirnya saya muntah dua kali, tetapi tidak banyak. Perut masih sangat sakit jadi jalan masih bungkuk, megangin perut dan nafas semakin ngos-ngosan. Saya ke dapur lagi sambil jalan kaya tadi itu, niatnya cari tempat yang seger karena setelah liat kamar malah kepala jadi pusing. Suasana malem itu memprihatinkan sekali. Rasanya pengen bangunin keluarga tapi kasian udah pada tidur.

Di dapur perut semakin menjadi memaksa saya cepat-cepat membuka pintu keluar ke belakang. Akhirnya saya saya muntah sejadi-jadinya. Lambung serasa diperas habis, sakit juga ya ternyata. Saya waktu itu keinget adik saya yang muntah-muntah juga kaya gitu, sama, yang minta saya jemput di semarang. Sepanjang perjalanan ke jogja muntah-muntah tiada henti, kasian. Bedanya dia mabuk perjananan sedangkan saya baru sadar bahwa saya keracunan sup basi. Muntahan saya yang keluar hanya sup asam, lengkap dengan semua isi sayur-sayurnya. Rasanya sangat kecut sekali.

Muntahan saya biarin dulu karena setelah duduk malah kedinginan dan perut bawah ingin keluar juga. Kayak muntaber gitu lah, langsung jalan dengan gaya jalan yang masih sama, ke wc. Ya gitu lah, lanjut berak dan sesekali muntah. Nggak ngerti udah bolak-balik berapa kali dari kamar-dapur-wc, sambil kemudian nyiram semuanya juga pake air biar bersih. Perut sakit sebegitunya saya sudah nyerah. Keinget ibuk dan wanita lain yang hamil dan ngelahirin. Sakit saya gak ada apa-apanya.

Jam setengah tiga kalo saya gak salah, masuk lah saya ke kamar setelah perut sudah kosong dan berasa lebih enak dan sudah saya isi dua teguk air. Takut kambuh kalo kebanyakan karena perut juga melintir-melintir terus, padahal sudah kosong. Anehnya, saya harus sholawatan terus biar perut tenang. Mungkin faktor psikologis sangat besar pengaruhnya. Di atas kasur, dalam SB dan selimut saya berasa panas badan saya. Saya sentuh ternyata dingin. Ini tandanya tubuh suhu tubuhnya turun, semacam demam. Kepala juga pusing. Yaudah cuma istirahat saja, nenangin badan biar sembuh.

Intinya, jangan makan makanan yang sudah basi. Sayur semacam sup yang sudah kecut itu tanda sudah basi. Jangan dimakan. Tetapi kalo pengen merasakan sakitnya perut karena keracunan atau mau menjajal kekuatan perut, silakan dimakan saja. 

Jumat, 30 Juni 2017

Media berita itu tidak penting

Rangorang jaman sekarang ini cenderung terlalu cepat menyimpulkan suatu masalah dan terlalu ahli dalam menilai sikap dan keputusan orang lain. Padahal kebanyakan dari mereka hanya mendapat secuil informasi dari media, lebih-lebih media sosial yang hanya berupa kabar. Saya jadi merasa mendatangi tempat sampah ketika mampir ke media sosial, apapun media sosial itu. Rangorang cenderung mudah sekali menelan mentah-mentah rumor yang beredar. Saya jadi kasian, sekaligus jengah. Betapapun banyak sekali ahli dan orang alim yang telah memberitahu agar jangan sebegitu mudahnya menderima kabar, lebih-lebih menyebarkan kabar. Namun tetap saja hal itu berjalan laksana rutinitas.

sumber : weekly world news, blogger
Intensitas. Saya rasa hal itu yang menjadi sebuah masalah. Orang kemudian bisa berubah menjadi bau parfum jika dia terlalu intens menyemprotkan dirinya dengan parfum. Orang akan menjadi pendek pemikirannya jika sangat intens dengan berita-berita kilat, pendek yang datang bertubu-tubi. Sialnya berita pendek itu belum tentu benar dan antara satu berita dengan berita lainnya tidak ada sambungannya yang jelas dan tidak ada ilmu yang bersambung pula. Jujur saya ini, jika saya analisis sendiri termasuk orang yang saya anggap kasian juga. Mungkin satu-satunya orang yang saya anggap kasian adalah diri saya sendiri, kalo gak salah. Maka dari itu saya mencoba untuk bisa meninggalkan media informasi yang bersifat News atau berita.

People die everyday, pencurian ada setiap hari, perampokan, pemerkosaan, tabrakan dan lain-lain dan hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru lagi. Tetapi walaupun begitu media masa, tv berita, situs berita dan blog-blog berita semakin tinggi ratingnya. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya rangorang itu sangat curious sekali, cuma salah media. Seandainya rasa ingin tahu itu berasal pada ilmu yang berguna saja...SAJA...maka ilmu yang baik akan masuk dan mengendap di tubuh kita. Namun berita-berita yang berifat hasad dan palsu itu mengotorinya sehingga jalur-jalur antara memori-sensori-motorik terganggu. Banyak sudah ilmu  mengendap di memori kita tetapi kita kesulitan mengaksesnya, seperti saya ini. Teori saya begitu sih, nggak tau yang sejatinya bagaimana. Yasudah saya akan mencoba praktik sendiri lah, siapa tau nanti akan berhasil. 

pilihan cara mati

Keberanian tidak membuat engkau mati cepat, dan pengecut tidak membuat mati lama. Semua tetap akan mati pada waktunya.