Jumat, 30 Juni 2017

Media berita itu tidak penting

Rangorang jaman sekarang ini cenderung terlalu cepat menyimpulkan suatu masalah dan terlalu ahli dalam menilai sikap dan keputusan orang lain. Padahal kebanyakan dari mereka hanya mendapat secuil informasi dari media, lebih-lebih media sosial yang hanya berupa kabar. Saya jadi merasa mendatangi tempat sampah ketika mampir ke media sosial, apapun media sosial itu. Rangorang cenderung mudah sekali menelan mentah-mentah rumor yang beredar. Saya jadi kasian, sekaligus jengah. Betapapun banyak sekali ahli dan orang alim yang telah memberitahu agar jangan sebegitu mudahnya menderima kabar, lebih-lebih menyebarkan kabar. Namun tetap saja hal itu berjalan laksana rutinitas.

sumber : weekly world news, blogger
Intensitas. Saya rasa hal itu yang menjadi sebuah masalah. Orang kemudian bisa berubah menjadi bau parfum jika dia terlalu intens menyemprotkan dirinya dengan parfum. Orang akan menjadi pendek pemikirannya jika sangat intens dengan berita-berita kilat, pendek yang datang bertubu-tubi. Sialnya berita pendek itu belum tentu benar dan antara satu berita dengan berita lainnya tidak ada sambungannya yang jelas dan tidak ada ilmu yang bersambung pula. Jujur saya ini, jika saya analisis sendiri termasuk orang yang saya anggap kasian juga. Mungkin satu-satunya orang yang saya anggap kasian adalah diri saya sendiri, kalo gak salah. Maka dari itu saya mencoba untuk bisa meninggalkan media informasi yang bersifat News atau berita.

People die everyday, pencurian ada setiap hari, perampokan, pemerkosaan, tabrakan dan lain-lain dan hal-hal tersebut bukanlah sesuatu yang baru lagi. Tetapi walaupun begitu media masa, tv berita, situs berita dan blog-blog berita semakin tinggi ratingnya. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya rangorang itu sangat curious sekali, cuma salah media. Seandainya rasa ingin tahu itu berasal pada ilmu yang berguna saja...SAJA...maka ilmu yang baik akan masuk dan mengendap di tubuh kita. Namun berita-berita yang berifat hasad dan palsu itu mengotorinya sehingga jalur-jalur antara memori-sensori-motorik terganggu. Banyak sudah ilmu  mengendap di memori kita tetapi kita kesulitan mengaksesnya, seperti saya ini. Teori saya begitu sih, nggak tau yang sejatinya bagaimana. Yasudah saya akan mencoba praktik sendiri lah, siapa tau nanti akan berhasil. 

pilihan cara mati

Keberanian tidak membuat engkau mati cepat, dan pengecut tidak membuat mati lama. Semua tetap akan mati pada waktunya. 

Kamis, 29 Juni 2017

Bunga Simalakama

sumber : deviantart-by djoput
Saya merasa aneh ketika berjalan di jalan rasa, belajar di sekolah, dan mendapat segala macam benefit dari segala struktur kewajiban negara kepada rakyatnya yang negara tersebut mendapatkan keuntungan dari suksesnya bisnis bank di negeri ini. Bank, sebuah badan di mana riba menjadi faktor utama pendapatan dan sumber keuntungan. Setitik saja nila tetes, rusaklah susu se lautan. Jadi tidak mungkin dipungkiri bahwa kita semua sekarang sedang berendang di lautan api riba. Riba, istilah formalnya di Negara ini adalah suku bunga, kalau lebih internasionalnya interest rate. Saya benar-benar merasa sangat heran dengan negara ini, kog bisa-bisanya sejak jaman dahulu sistem perbankan yang diterapkan adalah sesuatu hal yang sangat dilarang dalam agama Islam, padahal mayoritas penduduknya adalah beragama islam. Apakah tidak ada yang sadar orang-orang ini, yang mengakunya percaya kepada Allah tetapi mengabaikan perintah Allah. Tetapi tidak mungkin juga tidak ada yang menentangnya, mengingat kiprah ulama dan umat yang sangat besar sekali dari jaman dahulu. Terpaksa saya mencari tau sejarah perkembangan perbankan di negeri ini, tetapi kog ya rasanya malas, tetapi mau tak mau saya harus mau mencarinnya.

Menurut wikipedia di link INI bank di indonesia sudah ada sejak jaman belanda tahun 1828 yaitu De javasche Bank, NV. Saya kira mulai saat itu lah sistem perbankan yang lebih formil mulai menjadi semakin mengakar di Negeri ini. Saya yakin juga sebenarnya sistem pinjem meminjam uang yang berbunga juga sudah diterapkan masyarakat Nusantara sejak jaman dahulu, hanya saja tidak sebesar ketika belanda datang dan menempatkan sistem riba tersebut. Namun bisa kita lihat sejak jaman perjuangan bank-bank malah menjadi bertambah dan menjamur hingga sekarang ini. Seperti ada sesuatu yang tak tersentuh oleh kalangan muslim meskipun menjadi mayoritas. Buktinya sejak jaman belanda bank-bank tersebut semakin subur, bahkan dipupuk juga oleh orang pribumi yang notabene juga mengaku muslim. Sungguh mengherankan.

Bank adalah badan pengelola uang yang mendapat pemasukan selain dari biaya administrasi nasabah juga tingkat bunga pada uang yang dipinjam darinya. Walaupun begitu bank juga memberikan bunga kepada orang yang menabung. Namun dengan melihat keadaan sekarang ini bank-bank yang ada semakin makmur, ditambah lagi dengan bermunculnya bank-bank kecil atau badan-badan usaha semacam koperasi dengan sistem bunga yang semakin menjamur, mengindikasikan bahwa sistem yang diterapkan memang sangat menguntungkan. Lalu apa yang kemudian terjadi dengan umat muslim yang sampai saat ini masih mayoritas? Masih di bawah lantai menjadi keset sistem api ini. Kenapa saya sebut sistem api? Karena dia laksana negara api yang menyerang, semuanya dibakar sampai ludes, hingga habis semua termasuk harga diri orang-orang yang mengaku muslim itu.

Di negara ini organisasi islam pun banyak dan dua yang paling besar adalah Muhammadiyah dan NU. Di antara organisasi itu hampir tidak ada yang secara langsung kontra dengan sistem perbankan yang dlarang dalam syariat islam padahal semboyan utama yang pasti dikoar-koarkan adalah ammar ma'ruf nahi munkar. Tetapi bisa sedikit dipahami juga bahwa tidak semua ammar ma'ruf nahi munkar bisa dijalankan. Paling enggak ammar ma'ruf saja dahulu dan perjuangan masih berlanjut. Tidak ada paksaan dalam beragama, termasuk dalam hal muamalah. Seperti fenomena jilbab yang baru pada tahun 2000an ini mulai membesar.

Akhir-akhir ini semangat orang islam mulai terlihat dengan terhembusnya isu-isu yang berkontra secara langsung dengan jati diri islam oleh beberapa pihak. Saya tidak tau apa yang ada dibelakangnya namun melihat kejadiaan pki jaman dulu, manusia nusantara ini sangat marah jika hal-hal yang dianggap prinsipal termasuk tokoh yang dianggap panutan dihabisi, kehormatan dan nyawanya. Ada satu sifat khas dari manusia di negara ini yang tidak luntur sampai sekarang, manusia-manusia ini mudah larut dalam tidurnya atau mabuk kepayang jika kondisi negara cukup stabil. Saat kondisi terlalu stabil tersebut maka harga dirinya mulai digembosi sedikit demi sedikit tanpa diketahui oleh sebuah kekuatan dan nafsunya sendiri. Perlu momentum besar untuk menggedor tubuhnya agar beruncang sehingga sadar harga dirinya sudah terlalu jatuh.

Jika dilihat dengan sejarah penyebaran agama islam, cukup masif dan sangat cepat walaupun harus dengan cara yang berbeda. Penyebaran islam melalui pedagang atau secara langsung kepada masyarakat kurang bisa terlihat signifikan, walaupun tetap berhasil namun dalam jumlah yang tidak banyak. Beda ketika orang-orang besar sudah mengenal islam, para raja-raja dan kaum brahman atau cendekia, maka perkembangan islam menjadi sangat cepat. Orang-orang nusantara cenderung mudah ikut dan menurut dengan orang yang dianggap tokoh, yang brahmana dan ksatria, dalam arti orang yang memiliki kekuatan dan dianggap pemimpin. Saya kira tidak akan mudah jika menginginkan sistem riba hilang dan berganti dengan yang sesuai tanpa kekuatan dan kekuasaan.