Jumat, 22 September 2017

Ayam kampung

Sebagai seorang kampung tentu saya sangat akrab dengan ayam kampung. Bahkan kita shohib :) , hehe. Ayam kampung adalah ayam lokal yang biasa ditemukan di kampung-kampung. Di rumah saya juga memelihara ayam kampung, namun hanya memelihara alakadarnya saja, tidak profesional. Ayam kampung di penduduk kebanyakan dipelihara sebagai sarana untuk membantu menghabiskan sampah rumah tangga, seperti sisa makanan, nasi, lauk, sayur dan lain sebagainya yang daripada dibuang mending diberikan kepada ayam. Lumayan kan bisa menjadi daging ayam yang nanti kalo pas waktu-waktu khusus seperti perayaan bisa dimanfaatkan dagingnya.

Di rumah saya, ayam hidup separuh meliarkan diri di kebon, halaman samping rumah dan melancong sampai ke sawah-sawah. Rumah saya di tepi sawah sehingga ayam di sini sering tamasya ke sawah. Kondisi pememeliharaan ayam di rumah tidak jauh berbeda dengan masyarakat kampung pada umumnya, alakadarnya begitu. Pernah sekali saya mencoba mendatangkan ayam kampung super sebanyak seratus ekor, maksudnya agar sedikit profesional gitu. Hal yang terjadi kemudian adalah ayam itu ludes, rontok satu per satu karena penyakit. Waktu itu yang saya harapkan adalah agar dikelola oleh ayah saya, saya hanya sebagai penasihat. Dikarenakan pada hakikatnya ayah saya tidak begitu berbakat dalam memelihara sesuatu, maka hancurlah. Mau diberikan instruksi seperti apa saja, saran apa saja, namun karena memang tidak sesuai ya akhirnya tidak akan berjalan dengan lancar.

Saya sebenarnya tertarik untuk memelihara ayam dan dalam waktu dekat ini saya akan membikin kandang yang lebih baik dari sebelumnya. Kandang ayam kampung konvensional biasanya hanya sebatas lahan dengan pembatas bambu beralas tanah biasa. Pemberian pakan minum secara manual dan tidak ada manajemen limbah. Itu semua adalah sebuah masalah karena tidak higienis. Selain itu kondisi ayam yang terbuka cenderung mudah terkena wabah, apalagi tempatnya kotor. Rencana saya adalah bagaimana masalah tadi bisa terselesaikan, yaitu dengan memodifikasi kandang yang ada dan membuat manajemen limbah. Video di bawah ini adalah salah satu contoh kandang ayam yang terotomasi dan sangat bagus sekali aliran pakan, minum dan limbahnya:


Kandang terotomasi di atas adalah kandang untuk ayam broiler. Menurut saya agak sedikit kasihan kepada ayam kampung jika dimasukkan ke dalamnya. Tempat yang terlalu sempit nantinya membuat pergerakan ayam semakin sedikit dan menjadikan tekstur ayam tidak seperti layaknya ayam kampung sejati. Mungkin akan lebih baik jika diperluas atau dikurangi kepadatan ayamnya. Selain itu juga bagus jika ditinggikan dan dikasih "pancikan" sehingga ayam bisa bermain lompat-lompatan gitu. Tempatnya yang terlalu tertutup juga akan menjadikan ayam bau "gudang".  

Kandang bertingkat seperti di atas bagus untuk menghemat ruang dan cocok jika diotomasi seperti video di atas. Saya pernah melihat sebuah video di youtube juga yang otomasi namun tidak ber-rak seperti di atas. Sistem kandang biasa yang los seperti langseung lantai litter begitu namun ternyata yang otomasi adalah litternya. Sepenahnya sama seperti video di atas hanya saja langsung jadi satu semua tanpa rak, namu otomasi pakan, minum dan limbahnya tetap. Lain kali akan saya cantumkan videonya kalo sudah ketemu. 

Ayam kampung menurut saya tidak hanya sebuah produk lokal asli indonesia, namun juga berkualitas produknya. Semoga rencana saya nanti bisa terwujud dengan lancar. aamiin.

Kamis, 21 September 2017

Page View

Dalam menulis di blog ini (yang jarang-jarang juga ini) saya merasa terganggu dengan kolom page view di dalam daftar artikel. Yang namanya mata, entah mau atau tidak mau kalau sudah terpampang jelas di depan mata ya pasti kita embat. Ujug-ujug sebuah informasi masuk aja itu ke dalam memori, tekhusus pada orang yang daya fokusnya tidak tajam seperti saya ini. Page view adalalah sebuah tools yang memaparkan seberapa banyak artikel kita telah diakses oleh seseorang. Terkadang juga sesuatu seperti robot pencari atau semacam program dengan artificial inteligent gitu. 

Page view ini adalah sebuah tools yang bagus untuk memonitor artikel yang kita tulis terhadap tanggapan dari luar. Saya sebenarnya tidak begitu peduli terhadap apa yang disampaikan tools ini karena tujuan saya menulis di blog ini hanya sebagai sesi mencurahkan sampah saja, sehingga tidak berharap untuk dibaca banyak orang. Yang namanya sampah adalah barang buangan, namun memang bijak sih kalo mampu mendaur ulangnya sehingga menjadi barang yang bagus. 

Orang di dumay ini banyak yang memanfaatkan blognya sebagai pendulang recehan via adsense atau iklan semacamnya gitu. Tentu bagi mereka yang demikian itu tools page view sangat penting. Page view bisa menjadi sebuah teman yang memberi tahu kita akan nilai dari sebuah artikel, terutama nilai komersialitas. Kalo saya perhatikan di blog saya yang ini dan yang lainnya, untuk judul-judul yang pasaran itu memang lebih banyak dilihat oleh orang. Saya kira itu memang indikasi bahwa mekanisme SEO terhadap artikel atau dokumen di dunia maya ini memang hanya menghitung dan meneliti kata-per-kata dan jumlah kata yang beredar. Semakin banyak kata yang di-mention oleh makhluk dunia maya, maka nilai dari kata itu akan menjadi paling besar dan paling mudah untuk diketemukan. Maksudnya akan semakin mudah untuk kita diarahkan pada alamat yang memuat kata-kata tersebut. Ini juga yang menjadikan sebuah trik bagi siapa saja yang ingin mengoptimalkan halaman web nya agar dikunjungi, yakni SEO. Judul yang bisa mengoptimalkan kerja search engine untuk mengindeks artikel atau dokumen kita adalah judul yang pasaran. Makanya dalam artikel atau video atau apalah ada cantolah tag, label atau mention gitu sehingga diharapkan search engine nyantol kesitu. 

Kadang saya terpikir untuk membuat blog yang ngasal seperti itu juga yang kemudian kita bisa berkata "lumayan nambah recehan". Namun kebanyakan blog yang ada di dumay ini yang ada begitu-begituannya itu hanya sekedar artikel gak jelas begitu, bahkan hanya copy paste. Apalagi banyak dimention hal-hal yang banyak dicari orang kemudian ditaruk sebuah link, misal download aplikasi apa gitu. Namun setelah diklik yang kita dapat adalah zonk (iklan). Itu bukannya membantu orang/reader tetapi malah menipu. Uang gak seberapa yang kita dapet, namun hanya dosa karena telah menipu orang dan membuat data dan waktu orang terbuang percuma.  Saya kemudian mengurungkan niat saya untuk berbuat demikian. Jika ini merupakan tempat sampah, biarlah ia tetap menjadi tempat sampah. Siapa tau sampah yang sudah terkumpul ini nanti juga berguna, untuk dijadikan sebuah bahan atau didaur ulang gitu. 

Minggu, 02 Juli 2017

Keracunan Sup Basi

Kemarin siang dua adik sepupu yang cantik-cantik datang ke rumah membawa makanan, sisa syawalan guru di rumahnya. Acara syawalannya bulek. Cukup enak makanannya dan sewajarnya kita makan.

Jam 11 malam ada makanan yang tersisa, sup teryata. Saya makan lah agar tidak mubadzir, namun rasanya sudah kecut. Waktu itu perut sebenarnya sudah penuh karena sebelumnya saya sudah makan banyak. Selanjutnya saya istirahat di depan tv dengan adik saya, tetapi entah kenapa suasana tubuh tidak enak. Jam 12an lebih saya pindah ke kamar, niatnya mau tidur. Suasana cukup seger, 25 derajat, suhu kamar sebenarnya tetapi saya merasa kedinginan. Saya pakai Sleeping bag dacron saya plus selimut di dalamnya.

Jam setengah dua malam saya merasakan perut saya seperti kembung dan sakit sekali. Mual  banget.  Rasanya sakit sekali perut ini. Saya ke dapur, ambil air panas lalu minum sedikit karena saya kira masuk angin biasa. Biasanya setelah minum air anget agak enakan dikit. Memang perut jadi anget tapi tetep sakit, kembung dan mual parah. Saya jalan agak cepat ke WC karena perut bawah saya juga berasa. Akhirnya saya muntah dua kali, tetapi tidak banyak. Perut masih sangat sakit jadi jalan masih bungkuk, megangin perut dan nafas semakin ngos-ngosan. Saya ke dapur lagi sambil jalan kaya tadi itu, niatnya cari tempat yang seger karena setelah liat kamar malah kepala jadi pusing. Suasana malem itu memprihatinkan sekali. Rasanya pengen bangunin keluarga tapi kasian udah pada tidur.

Di dapur perut semakin menjadi memaksa saya cepat-cepat membuka pintu keluar ke belakang. Akhirnya saya saya muntah sejadi-jadinya. Lambung serasa diperas habis, sakit juga ya ternyata. Saya waktu itu keinget adik saya yang muntah-muntah juga kaya gitu, sama, yang minta saya jemput di semarang. Sepanjang perjalanan ke jogja muntah-muntah tiada henti, kasian. Bedanya dia mabuk perjananan sedangkan saya baru sadar bahwa saya keracunan sup basi. Muntahan saya yang keluar hanya sup asam, lengkap dengan semua isi sayur-sayurnya. Rasanya sangat kecut sekali.

Muntahan saya biarin dulu karena setelah duduk malah kedinginan dan perut bawah ingin keluar juga. Kayak muntaber gitu lah, langsung jalan dengan gaya jalan yang masih sama, ke wc. Ya gitu lah, lanjut berak dan sesekali muntah. Nggak ngerti udah bolak-balik berapa kali dari kamar-dapur-wc, sambil kemudian nyiram semuanya juga pake air biar bersih. Perut sakit sebegitunya saya sudah nyerah. Keinget ibuk dan wanita lain yang hamil dan ngelahirin. Sakit saya gak ada apa-apanya.

Jam setengah tiga kalo saya gak salah, masuk lah saya ke kamar setelah perut sudah kosong dan berasa lebih enak dan sudah saya isi dua teguk air. Takut kambuh kalo kebanyakan karena perut juga melintir-melintir terus, padahal sudah kosong. Anehnya, saya harus sholawatan terus biar perut tenang. Mungkin faktor psikologis sangat besar pengaruhnya. Di atas kasur, dalam SB dan selimut saya berasa panas badan saya. Saya sentuh ternyata dingin. Ini tandanya tubuh suhu tubuhnya turun, semacam demam. Kepala juga pusing. Yaudah cuma istirahat saja, nenangin badan biar sembuh.

Intinya, jangan makan makanan yang sudah basi. Sayur semacam sup yang sudah kecut itu tanda sudah basi. Jangan dimakan. Tetapi kalo pengen merasakan sakitnya perut karena keracunan atau mau menjajal kekuatan perut, silakan dimakan saja.